
Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.972 per dolar AS atau menguat dari akhir pekan kemarin di Rp15.089 per dolar AS.
Di kawasan Asia, rupiah 'kompak' melemah dengan seluruh mata uang. Rupee India melemah 0,77 persen, renminbi China minus 0,52 persen, ringgit Malaysia minus 0,44 persen, dan peso Filipina minus 0,37 persen.
Lalu, baht Thailand minus 0,34 persen, dolar Hong Kong minus 0,24 persen, won Korea Selatan minus 0,13 persen, yen Jepang minus 0,04 persen, dan dolar Singapura minus 0,04 persen.
Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pelemahan rupiah hari ini disebabkan oleh masih besarnya sentimen negatif dari eksternal. Di saat yang bersamaan, sentimen dari dalam negeri tak bisa menguatkan rupiah.
"Angka pertumbuhan tenaga kerja ini mencatat rekor dalam 9,5 tahun terakhir," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (5/11).
Sedangkan dari dalam negeri, sebenarnya ada sentimen cukup positif dari rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Tanah Air tumbuh 5,17 persen pada kuartal III 2018.
Pertumbuhan ekonomi ini lebih tinggi dari kuartal I 2018 dan kuartal III 2017, masing-masing sebesar 5,06 persen. Namun, lebih rendah dari kuartal II 2018 yang mencapai 5,27 persen.
"Ini sebenarnya stabil, tidak jelek, tidak bagus sekali juga. Tapi ini masih bisa dibilang positif, meski rupiah tidak jadi menguat," pungkasnya.
(uli/agi) from CNN Indonesia kalo berita gak lengkap buka link di samping https://ift.tt/2QkT1AP
No comments:
Post a Comment