
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kemenko Perekonomian Rudy Salahuddin menjelaskan pengembangan juga dilakukan untuk menjalankan perintah Presiden Joko Widodo. Presiden ingin kurikulum pendidikan di tingkat SMK mengikuti perkembangan zaman.
Kopi dipilih lantaran permintaan masyarakat ke depan sudah beralih ke produk berbasis gaya hidup. Apalagi, nilai ekspor kopi Indonesia tengah meroket.
Data Kementerian Perindustrian mencatat, total produksi kopi tahun lalu ada di angka 637,5 ribu ton atau meningkat 36,27 persen dari tahun sebelumnya yang 467.790 ton.
Rudy mengatakan ada satu proyek percontohan SMK kopi sudah dimulai dikembangkan pemerintah di Bandung sejak Juli kemarin. Di SMK tersebut, siswa yang belajar bisa mendapatkan enam sertifikasi di bidang kopi setelah lulus.
Di tahun pertama saja, siswa sudah mendapatkan dua sertifikasi. Sehingga, ketika siswa putus sekolah di tengah jalan, mereka masih bisa mencari pekerjaan.
Rudy juga bilang, peminat sekolah ini cukup tinggi karena permintaan industri akan barista profesional juga banyak. Selain itu, perputaran SDM (turnover) barista juga banyak. Rata-rata barista yang sudah bekerja minimal empat bulan sudah bisa membuka kedai kopi sendiri.
Rudy mengakan keahlian yang diajarkan di SMK kopi ini tak melulu menjadi barista. Rudy mengatakan, pelajar juga dibekali ilmu budidaya, pengolahan, hingga penyajian kopi. "Karena diberikan keahlian yang banyak, permintaan cukup tinggi, kami yakin SDM ini bisa mendapat penghasilan hingga tiga kali lipat dari Upah Minimum Provinsi (UMP)," jelas dia.
Rudy mengatakan selain di Bandung, SMK serupa juga akan dibangun di Sumatera Utara. Saat ini, pihaknya mengaku tengah melakukan pembicaraan dengan pemerintah daerah setempat.
Hanya saja, ia masih belum tahu rencana pengembangan SMK kopi di tempat lain. Ia mengatakan, pengembangan SMK kopi tentu harus diiringi dengan kemauan pemda setempat untuk mengubah kurikulum pengajaran. Kebetulan, lanjut dia, Bandung bisa menjadi proyek percontohan karena pemerintah provinsinya tanggap.
Ke depan, ia mengklaim prospek SDM di bidang kopi akan sangat menjanjikan. Apalagi, pemerintah kini tengah menggodok aturan penghasilan kena pajak (tax allowance) hingga 200 persen untuk sektor industri yang memanfaatkan pendidikan vokasi. Ia optimistis pelonggaran tersebut nantinya akan membuat industri kopi yang mau menggunakan SDM hasil sekolah vokasi makin banyak.
No comments:
Post a Comment